Perempuan
Dalam Hujan
Langkah
kaki itu membawanya menuju jalan setapak penuh kubangan air..
Langkah
kaki yang telah renta itu melawan dinginnya udara..
Lengan
yang telah lemah untuk menopang beban yang ada..
Punggung
yang tak lagi sekuat saat muda..
Tubuh
yang tak mampu lagi menahan dinginnya suhu udara..
Wanita
tua itu tetap berjalan dengan langkah pasti menuju rumahnya..
Membawa
sebongkah kayu yang dapat digunakan untuk menghangatkan tubuhnya..
Sendiri.
Hanya ditemani rintik hujan yang seolah berbisik dan berisik untuk menemaninya
menghabiskan hari ini..
Ditinggal
pergi suami dan anaknya.. ia hanya mampu
berdiri sendiri mengurus beratnya kehidupan dunia..
Rintik
hujan seolah memberinya ketenangan.. ditemani suara katak yang terus berisik,
suara jangkrik yang terus berbunyi.. membuatnya tak merasa sendiri..
Tapi,
hujan ini seolah mengerti betapa kesepiannya sang wanita tua..
Menjalani
hidup yang telah renta tanpa asa..
Tetap
tersenyum meskipun ia melewati rintiknya hujan yang sakit saat menerpa tubuh
rentanya..
Tuhan
seolah mengingatkan, bahwa ia tak sendiri dalam hujan..
Suara
hujan yang gemericik..
Suara
petir yang terkadang menggelegar seolah menerpa rasa sunyi dalam rumah
kecilnya..
Sebagai
pengobat rasa rindu pada sang belahan jiwa..
Anak
yang sangat ia cintai bahkan tak disampingnya, yang dahulu ketakutan saat
mendengar hujan dimalam hari tak ada lagi didekatnya, ia tak bisa lagi
memeluknya erat..
Buah
hati yang telah pergi dengan segala cita cita dan keinginannya..
Ia
relakan demi kebahagiaanya..
Kini..
ia hanya sendiri ..
Wanita
tua tiada berdaya, hanya mampu menahan rasa rindu dalam rintiknya hujan..
Memandang
sendu setiap gemericik air yang turun dari langit..
Menatap
penuh harap suatu ketika buah hatinya akan datang dan menjemputnya dalam
derasnya hujan ..
Menanti
dengan penuh harap ia akan dipeluk dan ditenangkan oleh buah hatinya..
Tak
lagi memandang takut akan hujan..
Dan
senantiasa bahagia ketika turunnya hujan..