Minggu, 13 Maret 2016

Perempuan dalam Hujan

Perempuan Dalam Hujan
Langkah kaki itu membawanya menuju jalan setapak penuh kubangan air..
Langkah kaki yang telah renta itu melawan dinginnya udara..
Lengan yang telah lemah untuk menopang beban yang ada..
Punggung yang tak lagi sekuat saat muda..
Tubuh yang tak mampu lagi menahan dinginnya suhu udara..
Wanita tua itu tetap berjalan dengan langkah pasti menuju rumahnya..
Membawa sebongkah kayu yang dapat digunakan untuk menghangatkan tubuhnya..
Sendiri. Hanya ditemani rintik hujan yang seolah berbisik dan berisik untuk menemaninya menghabiskan hari ini..
Ditinggal pergi  suami dan anaknya.. ia hanya mampu berdiri sendiri mengurus beratnya kehidupan dunia..
Rintik hujan seolah memberinya ketenangan.. ditemani suara katak yang terus berisik, suara jangkrik yang terus berbunyi.. membuatnya tak merasa sendiri..
Tapi, hujan ini seolah mengerti betapa kesepiannya sang wanita tua..
Menjalani hidup yang telah renta tanpa asa..
Tetap tersenyum meskipun ia melewati rintiknya hujan yang sakit saat menerpa tubuh rentanya..
Tuhan seolah mengingatkan, bahwa ia tak sendiri dalam hujan..
Suara hujan yang gemericik..
Suara petir yang terkadang menggelegar seolah menerpa rasa sunyi dalam rumah kecilnya..
Sebagai pengobat rasa rindu pada sang belahan jiwa..
Anak yang sangat ia cintai bahkan tak disampingnya, yang dahulu ketakutan saat mendengar hujan dimalam hari tak ada lagi didekatnya, ia tak bisa lagi memeluknya erat..
Buah hati yang telah pergi dengan segala cita cita dan keinginannya..
Ia relakan demi kebahagiaanya..
Kini.. ia hanya sendiri ..
Wanita tua tiada berdaya, hanya mampu menahan rasa rindu dalam rintiknya hujan..
Memandang sendu setiap gemericik air yang turun dari langit..
Menatap penuh harap suatu ketika buah hatinya akan datang dan menjemputnya dalam derasnya hujan ..
Menanti dengan penuh harap ia akan dipeluk dan ditenangkan oleh buah hatinya..
Tak lagi memandang takut akan hujan..
Dan senantiasa bahagia ketika turunnya hujan..