Tugas
Kelompok
PENGALIHAN
BELAJAR
Untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah
PSIKOLOGI
PENDIDIKAN
Dosen
Pembimbing
KHOIRONI
S.PSi. M.Pd.I
DISUSUN
O
L
E
H
NAMA
: SUSIANA
NPM :
1311050164
KELAS
/ SEMESTER : D / III

PENDIDIKAN
MATEMATIKA
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN INTAN LAMPUNG
1436
H/ 2014 M
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
saya ucapkan kehadirat Allah SWT, yang mana telah memberikan saya nikmat jasmani maupun rohani sehingga saya
dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Psikologi Pendidikan ini yang berjudul
“Pengalihan Belajar” selesai seperti waktu yang telah direncanakan.
Adapun
makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Psikologi Pendidikan pada semester
IV ini. Makalah ini berisi tentang materi Pengalihan Belajar yang akan dibahas
pada tiap-tiap halamannya..
Tersusunnya
makalah ini tentu tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah
memberikan bantuan secara materil dan spiritual, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada ibu
Khoironi S.Psi. M.Pdi selaku dosen pembimbing mata kuliah Psikologi pendidikan
dan teman-teman yang telah membantu dan memberikan dorongan semangat agar
makalah ini dapat diselesaikan.
Saya
menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kelemahan serta
kekurangan-kekurangan baik dari segi teknis maupun non-teknis. Untuk itu saya
memberikan kesempatan kepada semua pihak agar dapat memberikan saran dan kritik
yang membangun demi penyempurnaan penulisan-penulisan mendatang. Dan apabila di
dalam makalah ini terdapat hal-hal yang dianggap tidak berkenan dihati pembaca
mohon dimaafkan.
Bandar Lampung,
15 November 2014
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Belajar
merupakan pembuka ilmu, belajar tidak hanya berpusat pada ilmu pendidikan dan
teknologi melainkan masuk keseluruh ranah aspek kehidupan manusia. Belajar
merupakan aktivitas yang tidak pernah mati. Belajar merupakan proses berpikir,
merenung, menerawang akan semua kejadian yang ada di dunia ini baik segi aspek
positif maupun negatif.[1]
Dalam
prosesnya belajar merupakan hal yang relatif mudah tapi sulit untuk dilakukan,
banyak penyebab terjadinya aktivitas belajar terganggu, baik aspek internal
maupun eksternal.
Belajar
merupakan aspek yang sangat penting, belajar dapat dikategorikan menuntut ilmu,
dalam agama pun kita diharuskan mancari ilmu setinggi mungkin. Sesuai dengan
hadits nabi yang berbunyi “tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina” sejalan dengan
aktivitas belajar banyak hal yang dapat mempengaruhi proses belajar.
Belajar
merupakan suatu rutinitas sehari-hari bagi para pelajar sekolah dan mahasiswa.
Dengan belajar maka pelajaran yang belum didapat atau pun pelajaran telah
diberikan oleh pengajar dapat dipahami dengan baik. Belajar memang
bukanlah suatu aktivitas yang disukai oleh sebagian generasi muda kita.
Belajar butuh konsentrasi yang tinggi, waktu, tenaga, perasaan serta
sementara waktu dipaksa untuk meninggalkan berbagai kegiatan yang jauh lebih
menyenangkan dari belajar.
Ada
banyak hal yang membuat seseorang enggan untuk belajar dengan baik. Salah
satunya adalah karena adanya gangguan pada saat belajar. Untuk memulai
belajar saja terkadang sulit untuk dilakukan. Ditambah lagi munculnya
berbagai gangguan ketika kegiatan belajar sedang berlangsung. Konsentrasi
pun akan buyar. Bahkan belajar pun bisa ditinggalkan apabila orang yang
sedang belajar lebih memilih untuk menindaklanjuti gangguan belajar yang diterimanya.
Belajar dapat terganggu dan teralihkan ke hal hal yang lain yang cenderung
sangat mempengaruhi hasil belajar. Pada makalah ini akan dibahas pengalihan
belajar, yakni faktor yang dapat menyebabkan proses belajar maupun mengajar
menjadi terganggu.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
Pengertian Pengalihan Belajar ?
2. Faktor
Faktor Apa Saja Yang Mempengaruhi Pengalihan Belajar ?
3. Bagaimanakah
Pandangan Mengenai Pengalihan Belajar Ditinjau dari Sudut Agama Melalui Ayat
Ayat Al Quran ?
4. Bagaimanakah
Solusi Menangani Masalah Pengalihan Belajar ?
C.
Tujuan
penulisan
1. Mengatahui Pengertian Pengalihan
Belajar
2. Mengetahui Faktor
Faktor Pengalihan Belajar Terjadi
3. Mengetahui Ayat Ayat
Alquran Yang Membicarakan Masalah Pengalihan Belajar
4. Mengetahui Solusi
Menangani Masalah Pengalihan Belajar
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pengalihan Belajar
Pengalihan
dapat diartikan sebagai proses, cara, perbuatan mengalihkan; pemindahan;
penggantian; penukaran; pengubahan.[2]
Sedangkan belajar berasal dari bahasa inggris study yaitu memahami, mengerti, berfikir. Teori
teori tentang belajar mengemukakan bahwa perspektif ini merupakan kunci untuk
memahami perkembangan yang terjadi melalui respon individu terhadap lingkungan.[3]
Dapat
disimpulkan bahwa pengalihan belajar adalah perbuatan mengalihkan dari proses
berfikir, memahami, dan mengerti. Pengalihan ini menyebabkan aktivitas yang
mengganggu proses belajar.
Allah
swt berfirman dalam Q.S AL-alaq 1-5

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya[4]
QS
al- alaq menerangkan kepada kita tentang belajar yakni kewajiban belajar,
belajar dapat memberikan kita pengetahuan yang sebelumnya tidak kita ketahui, menuntut
ilmu dengan segenap kesungguhan dan mengulang nya beberapa kali agar kita bisa mengambil manfaat serta
memahami ilmu apa yang kita pelajari dan dapat mempraktekannya dalam kehidupan
sehari hari. Sebuah pepatah dari seorang imam bahwa “Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang
buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu ikatlah
buruanmu dengan tali yang teguh.”[5]
Sedangkan
dalam pengalihan belajar allah swt berfirman dalam QS Al ‘Alaq ayat 9-19
9. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang,
10. seorang hamba (Nabi Muhammad) ketika dia
melaksanakan shalat
11. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang dilarang
shalat itu) berada di atas kebenaran (petunjuk),
12. atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)
13. Bagaimana pendapatmu jika dia (yang melarang) itu
mendustakan dan berpaling (dari iman)?
14. Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah
melihat (segala perbuatannya)?
15. Sekali-kali
tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik
ubun-ubunnya (ke dalam neraka),
16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan dan
durhaka
17. Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk
menolongnya),
18. kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah
19. Sekali-kali jangan! Janganlah kamu patuh
kepadanyadan sujudlahdan dekatkanlah (dirimu kepada Allah)[6]
Belajar proses memahami segala sesuatu yang baik dan yang
buruk, mengenali setiap aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Allah
mewajibkan kita untuk mengerjakan segala hal yang bersifat positif dan jangan
memalingkan pandangan darinya. Pengalihan belajar dapat terjadi kapanpun dan
dimanapun, rasa malas juga merupakan pengalihan belajar, dimana seseorang tidak
mampu mengendalikan dirinya untuk mengerjakan sesuatu yang berguna, sebagai
seorang yang konsisten kita harus Tetap dalam alur yang positif dengan belajar
sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri dalam proses belajar tersebut.
2. Faktor Faktor Pengalihan Belajar
faktor
faktor meliputi faktor internal dan faktor eksternal
a.
Faktor Internal
Faktor
internal meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik, yakni :
1. Ranah Kognitif (cipta), antara lain seperti
rendahnya kapasitas atau inteligensi siswa.
2. Ranah Afektif (rasa), antara lain seperti
labilnya emosi dan sikap meliputi rasa malas
3. Ranah Psikomotor (karsa), antara lain seperti
terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga).
Faktor
internal ini terdapat dalam QS an nass ayat 1-6[7]
1. Katakanlah, “ aku berlindung kepada tuhan(yang
memelihara dan menguasai) manusia
2. Raja manusia
3. Sembahan manusia
4. Dari kejahatan (bisikan setan )yang biasa bersembunyi
5. Yang membisikkan(kejahatan) kedalam dada manusia
6.
Dari
(golongan) jin dan manusia
Kesulitan belajar seperti rendahnya
kapasitas atau intelegensi siwa mencakup pengetian yang luas, diantaranya :
1.
Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah
keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang
bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya
tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya
respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih
rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan
olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami
kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
- Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
- Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
- Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
- Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.[8]
Siswa yang mengalami kesulitan
belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai
gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik,
kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi
gejala kesulitan belajar, antara lain :
- Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
- Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
- Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
- Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
- Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
- Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.
Sementara itu, Burton (Abin
Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan
belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai
tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar
apabila :
- Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
- Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
- Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)[9]
Hal hal diatas cenderung menyebabkan
proses belajar terganggu sehingga dalam kegiatan belajar menjadi teralihkan
dengan hal hal yang cenderung berasal dari diri siswa itu sendiri.
b.
Faktor Eksternal
Faktor Eksternal meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang
tidak mendukung aktivitas belajar siswa.
Faktor ini meliputi :
1. Lingkungan
keluarga, misalnya ketidak harmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan
rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2. Lingkungan
perkampungan atau masyarakat, misalnya wilayah perkampungan kumuh (slum area)
dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
3. Lingkungan
sekolah, misalnya kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat
pasar, kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Faktor eksternal ini terdapat dalam QS ar-rad :19[10]
“orang
orang yang merusak janji allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan
apa apa yang allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di
bumi, orang orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat
kediaman yang buruk(jahanam)”
Beberapa hal yang yang dapat terjadi dalam proses
pengalihan belajar ialah[11]
:
1. Siswa Membaca Komik Saat KBM Berlangsung
a. Kemungkinan
penyebab
• Siswa tidak suka pada pelajaran• Siswa tidak suka dengan guru yang sedang mengajar
• Siswa tidak mood mengikuti pelajaran
• Siswa merasa bosan dengan pelajaran
• Suasana KBM terlalu santai
• Guru hanya duduk di depan
• Guru tidak pernah menegur siswa yang membaca komik
• Siswa merasa sudah bisa
b. Alternatif solusi
• Guru membuat siswa tertarik mengikuti pelajaran dulu
• Guru membuat siswa suka pada guru dulu
• Guru membangkitkan semangat siswa dulu
• Guru menciptakan variasi pembelajaran dengan permainan, metode yang menarik dan diselingi humor – humor yang menyenangkan
• Guru sebaiknya memperluas kesempatan belajar bagi siswa
• Guru perlu berjalan keliling kelas agar siswa merasa dipantau
• Guru memegur siswa yang tidak fokus pada pelajaran
• Guru menyuruh siswa yang sudah paham untuk mengerjakan soal di depan
2. Siswa Tidur Di Kelas Saat KBM Berjalan
a. Kemungkinan penyebab
• Siswa tidak suka pada pelajaran
• Siswa mengantuk
• Siswa tidak suka pada guru yang sedang mengajar
• Siswa bosan dengan pelajaran
• KBM monoton
• KBM tidak menarik
• Siswa kekenyangan
• Siswa sakit amandel
• Siswa begadang semalaman
• Suara guru terlalu merdu
b. Alternatif solusi
• Guru membuat siswa suka pada pelajaran dulu
• Guru menyuruh siswa cuci muka
• Guru tampil semenarik mungkin di kelas
• Guru mengajar dengan teknik yang menarik
• Guru menciptakan variasi dalam mengajar
• KBM dibuat semenarik mungkin, dengan diselingi games, songs, or videos
• Guru memberi tugas pada siswa uuntuk mengerjakan soal di depan atau membaca keras text bahasa inggris di depan
• Siswa disuruh kedepan untuk mempraktekan dialog agar tidak mengantuk
• Guru menyuruh siswa yang mengantuk utuk menyayi di depan, lagu bahasa Inggris
• Guru membatasi waktu bicaranya,agar siswa bisa lebih aktif.
3. Siswa diam ketika diberi pertanyaan oleh guru
a. Kemungkinan penyebab
• Siswa tidak tahu jawaban pertanyaan guru
• Siswa takut jawabannya salah
• Siswa tidak percaya diri menjawab dengan bahasa Inggris
• Siswa takut dikatakan sok pintar
b. Alternatif solusi
• Guru memberi waktu bagi siswa untuk berfikir atau mencari jawaban di buku
• Guru menekankan bahwa jawaban benar atau salah tidak masalah
• Guru memberi tahu bahwa menjawab pertanyaan adalah salah satu kesempatan untuk berlatih berbicara dengan bahasa Inggris
• Guru memberi pertanyaan pada tiap siswa agar tidak terkesan ada yang sok pintar atau sok tahu
4. Siswa tidak pernah bertanya saat diberi kesempatan bertanya
a. Kemungkinan penyebab
• Siswa takut dikira bodoh
• Siswa tidak tau apa yang mau ditanyakan
• Siswa takut dikatakan sok aktif
b. Alternatif solusi
• Guru menekankan bahwa siapapun yang tidak paham harus bertanya
• Guru memancing siswa dengan memberi soal agar ketahuan apakah siswa benar – benar sudah paham atau belum
• Guru memberi kesempatan pada beberapa siswa untuk bertanya, misalnya 3 siswa atau 4 siswa berurutan
5. Siswa tidak mengerjakan tugas rumah mereka
a. Kemungkinan penyebab
• Siswa malas
• Petunjuk pengerjaan tugas kurang jelas
• Siswa tidak bisa mengerjakan
• Kurang motivasi belajar
b. Alternatif solusi
• Siswa yang tidak mengerjakan tugas harus mengulang mengerjakan 5 x agar jera dan lebih rajin
• Guru memastikan bahwa petunjuk pengerjaan soal jelas.
• Siswa diminta bertanya cara mengerjakan soal pada teman
• Guru memberi hadiah bagi siswa yang pekerjaanya benar semua
6. Siswa Berbicara Sendiri Saat Guru Menjelaskan Materi
a. Kemungkinan penyebab
• Guru menjelaskan secara monoton
• Pelajaran kurang menarik bagi siswa
• Guru tidak disukai siswa
• Siswa merasa sudah menguasai materi
• Siswa takut pada teman jika tidak ikut ngobrol
b. Alternatif solusi
• Guru menjelasakan dengan berbagai metode (ceramah, contoh nyata, atau mengambil rekaman dari internet)
• Guru memberitahu pentingnya pelajaran tersebut bagi kehidupan siswa dimasa yang akan datang
• Guru mengajar semenarik mungkin
• Guru memanfaatkan siswa yang sudah bisa untuk menjelaskan pada teman- temannya di depan kelas
3
Solusi
Penanganan Masalah Pengalihan Belajar
Dengan memahami psikologi pendidikan,
seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat[12]
:
1. Merumuskan
tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan
yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk
perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya,
dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku
individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih
strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan
yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran
yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan
keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang
sedang dialami siswanya.
3. Memberikan
bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping
melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya.
Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan
bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan
interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi
dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk
mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan
dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan
kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar.
Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan
mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun
motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan
iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan
adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan
yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang
kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan
menyenangkan.
6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi
pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih
bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai
hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan
dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih
adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun
menentukan hasil-hasil penilaian.
BAB
III
KESIMPULAN
Belajar
merupakan aspek yang sangat penting, belajar dapat dikategorikan menuntut ilmu,
dalam agama pun kita diharuskan mancari ilmu setinggi mungkin. Sesuai dengan
hadits nabi yang berbunyi “tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina” sejalan dengan
aktivitas belajar banyak hal yang dapat mempengaruhi proses belajar.
pengalihan
belajar adalah perbuatan mengalihkan dari proses berfikir, memahami, dan
mengerti. Pengalihan ini menyebabkan aktivitas yang mengganggu proses belajar.
Faktor Faktor
Pengalihan Belajar
faktor faktor meliputi faktor internal
dan faktor eksternal
Faktor
Internal
Faktor internal meliputi gangguan
atau kekurangmampuan psikofisik, yakni :
1. Ranah Kognitif (cipta), antara lain seperti
rendahnya kapasitas atau inteligensi siswa.
2. Ranah Afektif (rasa), antara lain seperti
labilnya emosi dan sikap meliputi rasa malas
3.
Ranah
Psikomotor (karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera
penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga).
Faktor
Eksternal
Faktor
Eksternal meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak
mendukung aktivitas belajar siswa.
Faktor ini meliputi :
1.
Lingkungan keluarga, misalnya ketidak harmonisan
hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2. Lingkungan
perkampungan atau masyarakat, misalnya wilayah perkampungan kumuh (slum area)
dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
3. Lingkungan
sekolah, misalnya kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat
pasar, kondisi guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Solusi Penanganan Masalah Pengalihan Belajar
1. Merumuskan
tujuan pembelajaran secara tepat.
2. Memilih
strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
3. Memberikan
bimbingan atau bahkan memberikan konseling
4. Memfasilitasi
dan memotivasi belajar peserta didik.
5. Menciptakan
iklim belajar yang kondusif.
6.
Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
7.
Menilai hasil pembelajaran yang adil.
DAFTAR
PUSTAKA
Al Quran Karim an nass
1-6
Alquran Karim AR-Rad19
Bakar, abu . 2011. Kunci Orang Orang Masuk Surga .
Surakarta: Asta Grafika
Dalyono,M. 2010. Psikologi
Pendidikan,Jakarta: Rineka cipta
Kresnanda Surya. 2012. Generasi Mpv. Jakarta: Gramedia
Purwanto Ngalim . 2007.
Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya
Sarwono, Sarlito W.
2012. Psikologi Pendidikan Remaja.
Jakarta: Grafindo Persada
Upton,Penney.2012. Psikologi
Perkembangan, Jakarta: Erlangga
Website :
Http://www. Peran-Guru-Mengatasi-Masalah-Belajar//Blogspot.
[1]
Surya
Kresnanda. Generasi Mpv (Jakarta,Gramedia,2012)
Hlm 45
[2]
Penney
Upton. Psikologi Perkembangan,
(Jakarta: Erlangga,2012)Cet I Hlm. 9
[3] Ibid,Hlm 10
[5]
Abu Bakar.Kunci Orang Orang Masuk Surga
(Surakarta, Asta Grafika,2011) Hlm 45
[7]
Al Quran
Karim an nass 1-6
[8]
M. Dalyono, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta: Rineka cipta, 2010), cet IV. Halaman. 15.
[9]
Ngalim Purwanto,
Psikologi Pendidikan,(Bandung, Remaja
Rosdakarya, 2007) Hlm 32
[10]
Alquran
Karim AR-Rad19
[11] Sarlito W
Sarwono. Psikologi Pendidikan Remaja(Jakarta:
Grafindo Persada, 2012)Edisi Revisi. Hlm 145
[12]
Http//Peran-Guru-Mengatasi-Masalah-Belajar//Blogspot.